Print
Category: Uncategorised
Hits: 378

JAKARTA (beritatrans.com) – Penutupan perlintasan sebidang menurut Pengamat Transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno, harus ada upaya paksa. Hal itu lantaran masih banyak masyarakat yang tidak mengindahkan dan melakukan pelanggaran.“Ini kaitannya juga dengan ketersedian angkutan umum. Minimnya angkutan umum, membuat masyarakat memilih gunakan kendaraan pribadi, namun kurang mematuhi peraturan,” ungkap Djoko kepada BeritaTrans.com, Minggu (17/4/2016).


Penutupan paksa sebaiknya menurut Djoko dilakukan, karena peran Pemerintah Daerah (Pemda) juga terlihat masih minim.
“Bila tidak ada anggaran, harusnya Pemda mengusulkan ke pusat agar dilakukan pembangunan fly over atau underpass,” ujar Djoko.
Djoko mengatakan, untuk sosialisasi dari pihak terkait, yakni Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan masih terus berjalan. Namun, masyarakat ‘terlalu memaksa’ dan kurang taat peraturan, sehingga kecelakaan di perlintasan kereta api (KA) sebidang, masih saja sering terjadi.
Djoko juga menyoroti penjagaan perlintasan sebidang. Menurut dia, bila semua perlintasan dijaga manual juga akan tidak efektif. Untuk itu perlu diperbanyak pintu perlintasan otomatis.
“Masyarakat juga harus taat pada rambu-rambu selama berkendaraan, sehingga dapat mengurangi tingkat kecelakaan,” kata Djoko. (omy)